SALAH DOSIS

Mendidik dan merawat anak tidaklah mudah. Semenjak hamil setiap hari saya selalu meluangkan waktu untuk membaca buku-buku dan artikel-artikel mengenai ibu hamil dan perkembangan anak. Jika buku atau artikel itu penting, saya akan meminta suami untuk membacanya. Kami harus sama-sama belajar bagaimana cara merawat dan mendidik anak agar anak bisa tumbuh dengan bahagia. 


Sore itu, kami pulang terlambat. Selama pandemi, kami tidak pernah pulang terlalu sore. Kami lebih sering pulang cepat dan meluangkan waktu untuk bayi kami. Bayi kami baru berumur  12 bulan. Dia termasuk bayi yang hiperaktif. Dia selalu menangis setiap melihat orangtuanya pulang kerja. Dia ingin segera berada dipelukan mamanya. Sesuai protokol kesehatan, setiap pulang ke rumah harus mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu baru menggendong bayi. Kerika saya gendong, saya kaget karena dia panas. Saya segera menggambil termometer dan hasilnya suhu tubuh bayi kami 39.4 derajat celcius. Tanpa berpikir panjang, suami saya segera menggambil obat penurun panas untuk diminumkan. 


Saya ingat betul, sebelum meminumkan, suami saya membaca aturan pakai dan memastikan bahwa sudah sesuai dengan aturan. Kemudian kami meminumkan obat tersebut ke bayi kami. Dengan sedikit memaksa, akhirnya obat itu bisa diminumkan. Kemudian bayi kami tertidur. 


Malam itu saya tidak bisa tidur, karena suhu tubuhnya panas mencapai 39.4 tidak mau turun meski sudah diberi obat penurun panas. Saya takut jika suhu tubuh terlalu panas bisa kejang sehingga bisa berakibat fatal untuk perkembangannya. 


Sampai pagi suhu tubuh bayi kami tetap panas. Akhirnya dengan berat hati kami membawa bayi kami ke rumah sakit. Rasa campur aduk dalam hati saya, takut dan ingin menangis. Setelah bertemu dokter, saya kira hati saya akan lega. Ternyata saya semakin takut karena bayi saya tidak diberi obat dan malah diminta untuk chek laborat lengkap dengan urin. 


Rasanya saya tidak tega melihat tangan mungkil bayi saya harus ditusuk-tusuk jarum. Saya ingin menunggu di luar saja tetapi bayi saya tidak mau dengan siapa-siapa. Dia hanya mau didekapan mamanya. Saya menguatkan diri saya untuk menyaksikan tangan mungil bayi saya ditusuk-tusuk jarum. Nah sampai disitu, saya semakin takut, khawatir dan ini menangis lagi karena petugas melakukan kesalahan dalam pengambilan darah. Sehingga tanggan bayi saya menjadi luka dan bengkak. Disitulah saya tidak mampu membendung air mata saya. Namun, ada cerita lucu didalamnya. Kami tidak bisa menggambil urin bayi saya. Dengan berbagai cara tidak bisa memaksa bayi untuk mengeluarkan urinnya. Akhirnya kami pulang ke rumah terlebih dahulu. Saya tau bayi saya akan pipis setelah bangun tidur. Setelah menampung urinnya, suami saya membawa ke laboratorium di rumah sakit sambil menunggu hasilnya. Satu jam berlalu dan hasil lab dibacakan oleh dokter yang menyatakan semua dalam kondisi baik. 


Mendengar itu hati saya lebih tenang. Namun kenapa bayi saya panas tinggi dan tidak mau turun? Saepanjang malam saya menangis dan pagi-pagi buta kami membawa bayi kami ke IGD. Sesampainya di IGD suhu tubuh dichek hasilnya 39.4 dan bayi kami diberi obat yang dimasukkan melalui dubur. Kami diminta menunggu selama 30 menit, jika panas turun bayi kami boleh dibawapulang. Setelah 30 menit, alhamdulillah turun menjadi 37.8. Memang masih panas, tapi setidaknya panasnya sudah turun. Dokter membolehkan pulang dan jika sampai besok panasnya belum turun, harus dilakukan chek laborat ulang. Akhirnya kami membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah suhu tubuhnya panas lagi menjadi 39,4 lagi. Perasaan kami campur aduk. Sebagai ibu, hati saya teriris-iris. Rasanya ingin memindahkan rasa sakitnya ke tubuh saya. Jelas saya tidak bisa membendung air mata. Berhari-hari saya menangis. 


Sampai hari ketiga, tepatnya di siang hari, suami saaya baru tersadar bahwa dia salah memberi dosis. Harusnya diberikan dosis 1.2 ml suami saya hanya memberikan o.2 ml. Astagfirullah... jahatnya kami, membiarkan anak sekecil itu merasakan panas berhari-hari. Kecerobohan yang kami lakukan dapat berakibat fatal. Tuhan masih menyayangi bayi kami. Tuhan masih memberi kesempatan untuk menjadi orang tua yang baik. Semoga peristiwa ini tidak terjadi pada orang lain. Karena kondisi anak berbeda-beda. Kecerobohan ini akan memberi pelajaran berharga bagi kami.  


Semarang, 4 Januari 2021

Komentar

  1. Cerita diatas dapat membuat Orang dewasa atau orang tua lebih berhati hati dalam merawat bayi atau anak balita

    BalasHapus
  2. Semoga bisa jadi ibroh ortu yg lain.

    BalasHapus
  3. Semoga menjadikan pelajaran yang berharga buat para orang tua agar lebih berhati-hati lagi dalam menjaga buah hati yang kita sayangi selalu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DISEMINASI BUDAYA POSITIF DI SMK NEGERI 4 SEMARANG